Kami Persilakan

Sudah sejak lama, sebagian orang yang perhatian terhadap bahasa menganggap ungkapan "waktu dan tempat dipersilakan" itu keliru. Lebih-lebih setelah dikemukakan pada acara yang super heboh seantero negeri. Semakin bertambahlah nilai kelirunya itu. Alasannya karena ungkapan ini dianggap tidak memenuhi kaidah logis.

Memang betul, waktu dan tempat adalah benda mati. Dan benda mati tentu tak akan dapat berpidato, tidak pula dapat memberi penjelasan tentang perkembangan kesehatan masyarakat, betapapun ia telah diundang dan dipersilakan berkali-kali.

Ungkapan "waktu dan tempat dipersilakan" tentu saja dapat diganti dengan bentuk yang lebih logis. Misalnya dengan kalimat “Kami persilakan bapak menteri untuk memberi penjelasan.”

Dalam bentuk kalimat seperti ini, tentu kemungkinan besar Pak Menteri akan menggunakan waktu dan tempat yang telah disediakan. Sebab Pak Menteri dalam contoh kalimat ini adalah persona, subjek yang hidup dan manusiawi. Dapat dipersilakan.

Jadi kericuhan ini jelas, semata-mata memang persoalan logika bahasa. Tentu saja saya setuju bila logika bahasa adalah satu hal penting dalam berkomunikasi. Tetapi dalam kesempatan ini, saya mesti pula menekankan, bahwa bahasa tidak melulu soal logika, bahasa juga merupakan gudangnya metafora. Dalam istilah lain, perumpamaan dan kiasan.

Metafora umumnya dianggap hanya ada pada teks sastra. Faktanya metafora juga tak kalah banyak ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Coba tengok ungkapan berikut: matahari, rumah sakit, meja hijau, suara rakyat, kepala negara, buah hati, tikus kantor, bintang kelas, anak emas, pembawa acara, kutu buku, mati kutu, belahan jiwa, cari muka, daftar hitam, sampah masyarakat, gelap mata, lupa daratan, dan wah masih banyak lagi deh.

Bila kita menganggap bahwa bahasa melulu hanya soal logika, celakalah kita. Matahari mesti berganti nama menjadi bola api raksasa sebab ia tidak berkedip dan tidak punya alis, pembawa acara mesti diubah jadi pemandu acara sebab tidak mungkin acara besar dapat dibawa-bawa, dan rumah sakit mestilah jadi rumah pemulihan sebab bila pergi ke rumah sakit bisa-bisa kitalah yang justru tertular penyakit yang diidap si rumah. Merepotkan, kan?

Selain metafora, kita tahu, tak terhitung pula gaya bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kasus ungkapan "waktu dan tempat dipersilakan", saya sih masih sangat mempersilakan. Sebab dalam ungkapan ini, sebetulnya ada dua gaya bahasa yang mungkin, sekali lagi mungkin, secara tidak sadar sedang dipraktikan penggunanya.

Personifikasi yang terjadi dalam ungkapan ini ialah gaya yang membuat seolah-olah waktu dan tempat lah yang memang dipersilakan menemui pembicara. Sementara penghematan yang nampak, ialah gaya yang menghilangkan sebagian unsur sintaksis untuk mencapai efisiensi. Dalam kasus ini, sebagian kata ditanggalkan dari kalimat yang selengkapnya ialah “Waktu dan tempat yang telah disediakan, kini dipersilakan pada Pak Menteri.”

Akan tetapi, saya pula sangat mempersilakan bila ada ungkapan lain yang dianggap lebih logis untuk digunakan. Lebih-lebih bila ia menambah cita rasa dan ketepatan dalam berkomunikasi. Selama ia dapat diterima dengan gembira oleh hati pendengarnya, kenapa tidak. Sebab selain logika, bahasa ialah juga persoalan gaya, dan tentu saja rasa.

Maka untuk menutup obrolan ringkas kita ini, patutlah saya kutip sebuah perkataan Raja Anusyirwan dalam Hikayat Bustan Al-Salatin. Sebuah ungkapan mempersilakan yang mula-mula ada dalam bahasa melayu lama. “Hai tuan-tuan, sila mari kita berkata-kata, masing-masing seorang suatu perkataan hikmat!”*

Leave A Comment