Akibat Kekenyangan Informasi

Membaca tulisan Ariel Heryanto soal mutu dan debat di media massa, tiba-tiba ingatan saya semasa sekolah bangkit kembali. Betapa serunya membaca argumen yang saling beradu dalam sekolom artikel, bergantian di setiap pekan.

Kadang hanya satu dua balasan, tetapi kadang-kadang bisa berlarut sampai tiga atau empat pekan bersautan. Lebih-lebih soal polemik kebudayaan di majalah sastra. Serunya minta ampun.

Maklum, semasa remaja saya penggemar berat majalah semacam itu. Gara-gara itu, maka terbentuklah imajinasi saya untuk melakukan semacam nostalgia. Bukan berdebat. Sekedar bersautan di media massa yang sudah jauh berbeda ini. Meski begitu, bukan soal adu argumen betul yang menarik minat saya pada tulisan ini, melainkan soal banjir informasi.

Dalam tulisan berjudul “Mutu Debat Publik Kita”, Prof. Ariel mengisahkan bahwa masa ini adalah masa meledaknya informasi dan kebebasan berkomunikasi. Koran dan majalah menjadi terlalu lamban, elitis, dan rumit bertele-tele. Oleh sebab demikian, arena itu kini digantikan oleh media yang lebih ringkas, cepat, dan egaliter.

Tentu yang dimaksud ialah internet. Blog, website, twitter, Instagram, facebook, dan lain sejenisnya. Media yang memang membuat setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengemukakan pendapat di hadapan massa. Tetapi di sisi lain, juga membawa konsekuensi yang tidak kecil.

Karena setiap orang punya kesempatan yang sama, maka pesan yang disampaikan terpaksa harus berdesak-desakan dengan jutaan pesan lain. Ruang publik lantas disesaki oleh demikian banyak potongan-potongan ujaran.

Setiap orang saling berebut perhatian, agar didengar dan dipahami. Pesan dan informasi pun menjadi terpatah-patah, karena disampaikan dengan terburu-buru. Hasilnya, tidak lain ialah kedangkalan dan pendangkalan komunikasi.

Sampai di situ, saya berdiri di pihak yang sama. Terlebih pada dugaan bahwa di dalam fenomena ini, tidak ada yang sanggup mengendalikan dan tidak ada pula yang diuntungkan, yang ada hanya banyak yang dirugikan. Dan dalam kamus pengalaman saya, segala yang menimbulkan banyak kerugian cuma bencana.

Banjir Informasi

Banjir Informasi bagi saya, jelas adalah suatu macam bencana alam. Begini kira-kira kalau mesti saya andaikan. Air mengalir dari hulu ke muara, menggenang sebanyak apa pun tidak pernah menjadi soal di lautan.

Air mulai menjadi soal bila volumenya sudah melampaui batas tampung aliran sungai dan danau-danau. Maka disebutlah ia banjir. Air yang biasanya berada di lahan basah, mulai menjamahi lahan-lahan kering.

Pemukiman, jalan, perkantoran, dan macam-macam lagi tempat manusia jadi terganggu. Itulah soalnya. Maka orang-orang takut dan terusik. Sampai pada akhirnya, beramai-ramai mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman.

Banjir informasi tidak jauh berbeda. Ia terjadi karena volumenya sudah melebihi batas tampung kemampuan kita. Maka masuklah informasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan ke dalam kognisi yang terbatas.

Bukannya membantu, informasi yang berlebihan justru menjadi beban bagi kerja kognisi. Menurut George Miller, hasilnya adalah kesulitan dalam memahami suatu persoalan dan membuat sebuah keputusan.

Banjir informasi memang bukan persoalan baru. Ia telah dikenal dengan banyak nama seperti flood of information, information overload, infobesity, infoxification, information explosion dan lain-lain. Semuanya bermakna informasi yang berlebihan, yang secara metaforis disebut banjir informasi.

Banjir informasi sejatinya telah menjadi masalah sejak manusia dapat meningkatkan produksi informasi. Banyak cerita mengatakan, bahwa jauh sebelum masa renaissans manusia sudah demikian berhasrat untuk mengabadikan hasil pikiran dan penelitiannya. Namun begitu, hasrat itu masih tertahan oleh kemampuan manusia yang baru mampu menulis sebatas dengan tangan.

Pengalaman pertama manusia menghadapi banjir informasi barangkali baru terjadi ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Karena kemampuan mencetak buku semakin meningkat dan ongkosnya semakin murah, hasrat untuk mengabadikan catatan dan penelitian itu pun akhirnya menemukan jalan. Akibatnya, peningkatan jumlah buku menjadi tidak terhindarkan.

Sejak itu buku bertambah demikian cepat. Beratus-ratus, beribu-ribu, kemudian tiba jadi berjuta-juta. Artinya, informasi diproduksi dan menyebar dengan kecepatan yang sama. Oleh karena hal itu, mulailah para pemikir dan akademisi merasakan adanya masalah dari fenomena ini.

Conrad Gessner, Christian Thomasius, dan Georg Heizmann adalah beberapa nama yang mula-mula menaruh perhatian. Thomasius bahkan menyebut bahwa produksi buku yang berlebih-lebihan ini sudah menjadi seperti epidemi. Menular kemana-mana.

Persoalan dan Kendali

Informasi yang bertumpuk-tumpuk semakin sulit dikelola dan lebih sering terabaikan. Namun begitu, para sarjana rupanya tak habis akal. Di abad ke-18, Carl Linnaeus mengembangkan metode paper slips, yakni memberikan tanda pada catatannya dengan menggunakan kertas-kertas yang diselipkan.

Metode itulah yang menjadi ilham dari lahirnya sistem taksonomi, kartu indeks, dan katalog perpustakaan yang kita kenal sekarang ini. Ketiganya adalah teknologi ampuh menanggulangi banjir informasi di era cetak.

Di era informatika, para insinyur percaya bahwa setiap informasi dapat disimpan dan dikelola dengan mesin. Begitulah menurut para sejarawan sains, lantas tercipta berbagai perkakas, mulai dari komputer hingga jaring-jaring internet.

Sayangnya di era informasi pasca modern, era yang kita tinggali sekarang ini, banjir informasi justru makin tak teratasi. Bahkan menjadi lebih besar dari sebelumnya. Di era ini bukan hanya pengetahuan yang tidak tertampung, informasi remeh-temeh juga ikut membludak. Tak sanggup lagi ditampung pembacanya.

Informasi yang tidak terkendali ini bermacam-macam jenisnya, mulai dari spam, notifikasi email, chat bodong, status twitter, status facebook, hingga foto keseharian mantan di instagram pun mengalir dan diabadikan. Semuanya mengambang di permukaan laut informasi.

Yang menjadi soal, di permukaan laut kita kini bukan lagi sekedar pengetahuan yang berlebih, tetapi berbaur segala jenis sampah informasi yang tidak penting, sama sekali tiada guna. Dalam tahap terburuk, tentu saja menimbulkan kerusakan pada metabolisme pikiran manusia.

Era media cetak semata-mata berurusan dengan jumlah pengetahuan yang berlebihan, sehingga segala urusan dapat segera diselesaikan dengan adanya sistem pengelolaan, penyimpanan, dan pencarian informasi yang baik. Era media digital, adalah persoalan lain.

Era digital berurusan dengan dua hal. Pertama: jumlah, kedua: kualitas. Soal jumlah, jelas kecepatan dan kelipatan produksi informasi melesat jauh peningkatannya.

Di era ini, setiap orang di seluruh dunia ikut berpartisipasi memproduksi informasi. Seolah-olah setiap orang memiliki mesin cetak sendiri-sendiri. Setiap saat, setiap orang bisa menulis dan mendistribusi pikirannya. Jadi, silakan tebak sendiri jumlah pertambahan informasi yang dibuat dan simpan setiap detiknya.

Pertambahan jumlah itu setidak-tidaknya dapat diimbangi oleh kecanggihan mesin algoritma dalam menyimpan, mengelola, dan mencari. Tetapi, kualitasnya sama sekali sulit dikendalikan. Sebab informasi yang dihasilkan saat ini, berasal dari berbagai sumur dan mata air.

Institusi pengetahuan, industri jurnalistik, industri hiburan, komunikasi bisnis dan perorangan semuanya bersama-sama memproduksi informasi. Menyumbang dan mengalirkannya ke samudra internet.

Kekenyangan hingga Kecemasan

Informasi yang berasal dari selain komunikasi perorangan, sedikit banyak dapat dijaga kemurnian kandungannya. Sebab umumnya memiliki sistem verifikasi dan tahapan editorial. Sayangnya, jumlah produk informasi justru jauh lebih besar dihasilkan oleh komunikasi pribadi, khususnya melalui media sosial. Yang pembuatannya serampangan, dan kandungannya jelas berantakan.

Informasi dari pembuangan limbah komunikasi pribadi ini bukan hanya memperderas debit banjir, tetapi sekaligus mencemari pengetahuan. Hal ini karena informasi pribadi umumnya mengandung banyak kekeliruan. Mulai dari kecacatan sumber, salah kutip, bias informasi, salah pemahaman dan lain sebagainya.

Dengan begitu, semakin besar ketergantungan masyarakat kepada media sosial dalam memperoleh informasi, semakin besar pula peluang pencemaran terhadap pengetahuan.

Jumlah informasi yang terlampau banyak ini juga berpengaruh buruk pada perilaku manusia. Sebab Ketika kita mempelajari suatu hal, dengan mudah kita mendapatkan sedemikian banyak informasi.

Sayangnya, kemudahan ini cenderung membuat kita memperoleh lebih dari yang kita butuhkan. Sehingga sebelum benar-benar mebaca kita sudah merasa kembung. Sendawa terus menerus akibat information glut, alias kekenyangan informasi.

Banyaknya sumber membuat kita harus menghabiskan energi untuk menyaring sebelum benar-benar menyerap. Banyaknya informasi juga cenderung mengalihkan perhatian kita. Sebab di tengah upaya memahami suatu hal, tidak jarang kita merasa perlu memahami hal lain terlebih dahulu sebagai komponennya.

Sementara ketika beralih, kita kembali menemukan hal lain yang dirasa perlu untuk dipelajari juga. Begitu seterusnya, semakin lama kita semakin teralihkan dari pokok yang hendak dipelajari.

Dengan kata lain, informasi yang tak terbatas menyebabkan adanya jurang antara apa yang benar-benar perlu kita ketahui dengan apa yang kita duga harus diketahui. Jurang inilah yang membuat kita terangsang untuk cepat beralih-alih. Pada tahap yang lebih serius, timbullah satu kecemasan yang secara psikologis disebut information anxiety.

Secukupnya

Bila lazimnya orang mengungsi akibat banjir bandang, tidak demikian rupanya dengan banjir informasi. Banyak orang tidak melihatnya sebagai bencana. Kebanyakan justru asyik menyongsongnya. Padahal, seperti banjir pada umumnya, banjir informasi juga menyimpan banyak bahaya. Ia bahkan menenggelamkan pikiran dan kewarasan.

Menurut Vaughan Bell banjir informasi itu sama tuanya dengan umur informasi sendiri. Artinya, sejak dan selama kita berhadapan dengan informasi, maka sejak dan selama itulah kita juga akan berhadapan dengan kelebihan informasi. Dan baik digital maupun tidak, kelebihan informasi terbukti membawa kita pada bahaya-bahaya kecemasan dan sejumlah persoalan psiko-sosial.

Meski begitu, dalam soal ini saya sepakat dengan Clay Shirky, bahwa banjir bukanlah persoalan yang sebenarnya. Persoalan yang sebenarnya, tidak lain ialah kegagalan saringan informasi kita. Kegagalan sistem penyaring itu membuat kita tidak lagi mampu mengatur dan memilah mana informasi yang betul-betul kita butuhkan. 

Lantas sistem pemilah macam yang kita perlukan kini? Soal itu, saya kira perlu dibicarakan di lain kesempatan. Saat ini saya hanya hendak mengatakan, selama kita belum mampu merancang sistem pemilah yang baik, maka pilhan yang tersisa ialah mengungsi ke tempat kering. Menghindari aliran deras, membiarkan banjir berlalu, dan sesekali saja turun ke sungai. Menciduk informasi secukupnya, dengan sinduk kelapa atau bahkan jari sendiri yang ditelungkup rapat-rapat.*

Leave A Comment