Tabu Bahasa

Tabu Bahasa

Istilah tabu pada mulanya datang dari bahasa Tonga. Kata ini dibawa ke dalam bahasa Inggris oleh Kapten James Cook sebagai hasil penjelajahan dan pengamatannya terhadap penduduk Polinesia. Di dalam jurnalnya, Cook (1967) mencatat tabu sebagai kata yang secara sederhana berarti dilarang. Cook dan Anderson  menggunakan istilah tabu untuk menjelaskan bagaimana perilaku orang Polinesia terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan, dimasuki, dilihat, atau disentuh. Hal itu sejalan dengan penjelasan Radcliffe-Brown yang mengatakan bahwa:

In the languages of Polynesia the word means simply ‘to forbid’, ‘forbidden’, and can be applied to any sort of prohibition. A rule of etiquette, an order issued by a chief, an injunction to children not to meddle with the possessions of their elders, may all be expressed by the use of the word tabu. (Radcliffe-Brown, 1939).

Dalam beberapa kasus, tabu merupakan fenomena yang hampir umum ditemui di berbagai kebudayaan. Tabu yang umum dapat ditemui adalah tabu makanan. Hampir seluruh masyarakat, khususnya yang berlandasakan pandangan religi, memiliki larangan terhadap jenis makanan tertentu. Masyarakat hindu di india memandang tabu menjadikan sapi sebagai makanan, sementara masyarakat muslim di belahan dunia mana pun melarang untuk memakan babi. Freud (2001, hal. 22) menyatakan bahwa tabu adalah hukum tak tertulis paling tua yang dimiliki umat manusia.

Freud menyatakan bahwa tabu adalah hukum tak tertulis paling tua yang dimiliki umat manusia.

Menurut Radcliffe-Brown (1939) tabu menjadi istilah penting dalam ilmu sosial ketika ia mulai digunakan pada akhir abad kedelapan belas. Menurut kata asalnya tabu seolah-olah memiliki karakter yang dekat dengan kebudayaan primitif. Padahal menurut Fairman (2009, hal. 27) hal ini adalah keliru. Baginya, tabu hadir dalam masyarakat primitif sebagaimana juga hadir dalam kebudayaan kontemporer. Artinya, tabu sesungguhnya bukan hanya milik kebudayaan primitif, ia juga merupakan bagian dari hidup manusia. Selalu ada dan dilakukan tanpa sadar.

tabu sesungguhnya bukan hanya milik kebudayaan primitif, ia merupakan bagian dari hidup manusia yang selalu ada, dan dilakukan tanpa sadar.

Tabu menurut Allan & Burridge (2006) lahir di dalam konstruksi sosial dari perilaku individu yang menyebabkan timbulnya perasaan tidak nyaman, terusik, dan terlukai. Sementara Wardhaugh (2006, hal. 239) mendefinisikan tabu sebagai pelarangan atau penghindaran dalam suatu kelompok masyarakat atas perilaku yang dianggap berbahaya untuk anggota masyarakat itu; yakni perilaku yang dapat menyebabkan rasa cemas atau rasa malu. Di lain sisi, Trudgil (2000, hal. 18) menyatakan bahwa tabu dapat dipahami sebagai suatu hal yang berkaitan dengan perilaku yang dilarang atas dasar supranatural, atau dengan perilaku yang dianggap tak bermoral dan tidak patut. Laksana (2009, hal. 65) berpendapat bahwa tabu di dalam masyarakat hakikatnya berkaitan dengan konsep profanitas dan kesakralan. Sesuatu yang sakral dilarang ada di wilayah yang profan, begitu pula sebaliknya sesuatu yang profan tidak pantas berada di wilayah yang sakral. Berdasarkan definisi-definisi tersebut, tersirat bahwa konsep tabu secara umum selalu berkaitan dengan sensor atau pelarangan atas suatu perilaku individu. Adapun pelarangan itu berdasar pada norma yang berlaku di dalam konteks budaya masyarakatnya.

Menurut Fairman (2009, hal. 27), tabu adalah sebuah larangan terhadap kebiasaan yang terjadi dalam suatu komunitas masyarakat dalam konteks khusus. Artinya, tabu merupakan larangan yang tidak bersifat universal dalam kebudayaan manusia. Tabu sangat bergantung pada kebiasaan dan pandangan suatu komunitas terhadap suatu hal atau perilaku. Satu tindakan atau kata dapat menjadi tabu dalam suatu komunitas masyarakat, tetapi tidak dalam komunitas masyarakat lain. Di samping itu, tabu juga bergantung pada konteks. Artinya, pelarangan umumnya tidak berlaku mutlak di setiap saat.

Pelarangan selalu memiliki kekecualian yang memungkinkan kata atau tindak tabu justru dilakukan di saat-saat tertentu. Oleh karena itu, Fairman mengatakan “tidak ada tabu yang absolut dan universal” (2009, hal. 27). Contohnya adalah tabu yang berkaitan dengan kanibalisme dan hubungan seksual. Perilaku seksual tidak sepenuhnya dilarang, hanya saja ia diatur oleh seperangkat aturan baik yang tertanam secara sadar maupun bawah sadar. Oleh karena itu, meskipun umumnya ia dianggap tabu untuk dilakukan dan dibicarakan secara terbuka, tetapi di waktu tertentu, di tempat tertentu, dan bagi orang tertentu perilaku seksual sama sekali bukanlah perilaku yang tabu. Sementara itu, kanibalisme merupakan perilaku yang dianggap tabu hampir di seluruh kebudayaan, namun hal itu juga masih mendapat kekecualian. Misalnya ketika korban kecelakaan pesawat Andes tahun 1972 terpaksa memakan mayat manusia untuk bertahan hidup di tengah hutan[1].

Lahirnya Tabu

Freud (2001, hal. 22) mengklaim bahwa larangan tabu tidak memiliki dasar dan asal usul yang jelas. Namun begitu, Allan dan Burridge (2006, hal. 8-9) menyatakan bahwa umumnya tabu lahir dari ketegangan sosial yang terjadi pada perilaku individu. Tabu lahir sebagai akibat dari adanya perilaku individu yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, ancaman, dan perasaan terluka baik pada diri pelakunya atau pun diri orang lain. Ketegangan dan batas pada perilaku itu sendiri umumnya ditentukan oleh  individu atau suatu kekuatan baik yang bersifat fisik maupun metafisik yang diyakini memiliki suatu kuasa. Kuasa yang dimaksud bisa berupa hukum, sesembahan, masyarakat di mana individu itu tinggal, bahkan juga dirinya sendiri.

Tabu lahir sebagai akibat dari adanya perilaku individu yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, ancaman, dan perasaan terluka baik pada diri pelakunya atau pun diri orang lain.

Sebagaimana telah disebutkan, tabu juga dapat ditetapkan oleh seorang individu terhadap dirinya sendiri. Tabu yang ditentukan oleh diri sendiri misalnya terjadi pada kasus seseorang yang beranggapan bahwa memakan cokelat akan mengakibatkan sakit kepala bagi dirinya. Dengan demikian, orang tersebut membuat cokelat tabu bagi dirinya sendiri. Contoh lain dari kasus ini adalah seseorang yang menabukan bohong kepada guru. Hal itu disebabkan karena ia meyakini bahwa setiap kali ia berbohong kepada guru ia akan ditimpa diare dan sembelit.

Tabu memiliki tujuan dan manfaat dalam kehidupan manusia. Tabu secara alamiah dapat melindungi hal-hal tertentu dari jangkauan dan eksploitasi manusia. Misalnya adalah tabu terhadap perkawinan segaris keturunan. Hal ini sangat bermanfaat dalam perspektif perkembangan manusia, karena secara tidak langsung ia juga berperan dalam upaya meningkatkan kualitas genetik dan mengurangi risiko kecacatan. Contoh lain adalah tabu membuang garam. Tabu terhadap membuang atau menumpahkan garam dapat membantu dalam penghematan penggunaan garam, hal ini khususnya terjadi pada kondisi masyarakat di mana garam merupakan komoditi yang penting dan mahal.

Tabu memiliki tujuan dan manfaat dalam kehidupan manusia. Tabu secara alamiah dapat melindungi hal-hal tertentu dari jangkauan dan eksploitasi manusia.

Tabu juga dapat menjadi penunjuk adanya kohesi sosial. Adanya tabu yang sama di antara suatu kelompok dengan kelompok yang lain merupakan tanda bahwa ada nilai publik yang menghubungkan satu sama lain ke dalam sebuah komunitas bersama.

Adanya tabu yang sama di antara suatu kelompok dengan kelompok yang lain merupakan tanda bahwa ada nilai publik yang menghubungkan satu sama lain ke dalam sebuah komunitas bersama.

Sifat Tabu

Tabu umumnya didorong oleh sebuah gagasan atau pandangan mengenai ketidakbersihan atau ketidaksucian atas suatu hal yang berkaitan dengan fisik manusia (Allan & Burridge, 2006, hal. 5). Kasus yang banyak ditemui adalah pandangan terhadap menstruasi. Banyak komunitas yang memandang bahwa bersentuhan secara fisik dengan wanita yang sedang menstruasi adalah hal yang tabu. Sebab menstruasi dianggap sebagai hal yang kotor dan tidak suci. Sebagian komunitas seperti Yahudi ortodoks di New York bahkan akan menghindari transpotasi umum karena khawatir menduduki bekas duduk wanita yang sedang menstruasi. Mereka berpandangan bahwa persentuhan secara fisik juga akan mencemari kesucian para lelaki. Di Bali, perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang memasuki rumah ibadat, sebab hal itu dianggap akan mencemari kesuciannya.

Tabu disertai oleh konsekuensi ketika dilanggar, baik disengaja maupun tidak. Konsekuensi itu beragam bentuknya. Tabu yang dilanggar umumnya dipercaya dapat menimbulkan hal-hal buruk seperti petaka, kegagalan dalam perburuan, bahkan sampai tertimpa penyakit dan kematian pada diri pelaku atau kerabat di sekitarnya. Oleh karena itu dalam sejumlah komunitas sejumlah hal buruk yang menimpa seseorang hampir selalu dicurigai sebagai akibat pelanggaran tabu.

Tabu disertai oleh konsekuensi ketika dilanggar, baik disengaja maupun tidak.

Uniknya pelanggaran terhadap tabu juga dapat ditebus atau dimurnikan dengan suatu perilaku tertentu. Misalnya, Hobley (1910, hal. 438) menjelaskan bahwa di suku Kikuyu menikah dengan sepupu adalah tabu. Akan tetapi bila pada suatu kasus sang pengantin mengetahui hubungan kekerabatannya di kemudian hari, maka sebuah ritual harus dilakukan untuk menghindari bala yang akan menimpa. Dalam kasus ini para tetua akan menaruh seekor domba di atas pundak sang wanita kemudian menyembelihnya dengan serpihan kayu tajam. Setelah itu para tetua pun mengumumkan bahwa sang pria telah diputus hubungan kekerabatannya dengan sang wanita. Dengan begitu pernikahan berarti telah disucikan, dan hukuman dari melanggar tabu telah dihapuskan. Contoh lain adalah apa yang terjadi pada suku Ngahuni di Afrika Selatan. Seorang wanita dilarang keras untuk menyebut nama mertua laki-laki juga silaba yang terkandung dalam nama tersebut. Hal ini menjadi tabu terutama dilakukan di hadapan sang mertua. Namun demikian pelanggaran ini juga dapat ditebus dengan meludah ke atas tanah. Konsep ini dapat dikatakan  serupa dengan penebusan dosa yang dilakukan oleh masyarakat Kristen melalui ritual pengakuan terhadap pendeta.

Pelanggaran terhadap tabu juga dapat ditebus atau dimurnikan dengan suatu perilaku tertentu.

Seperti telah diuraikan, tabu juga bersifat tidak absolut. Bagi orang luar hal yang ditabukan dalam kebudayaan tertentu tampak aneh dan konyol, sementara bagi pelaku kebudayaannya justru sebaliknya. Allan & Burridge (2006, hal. 9) mengatakan bahwa tidak ada tabu yang berlaku untuk semua orang, di segala situasi, dan di setiap waktu. Hal itu dibuktikan oleh kenyataan bahwa sederet panjang daftar perilaku tabu, pada suatu masa entah setelah atau sebelumnya, tidak lagi dipraktikan dan dianggap demikian oleh masyarakatnya. Bagi masyarakat Aborigin di Asutralia membicarakan orang yang sudah meninggal adalah tabu, namun sebaliknya kantor berita Australia justru selalu menulis dan membicarakan seseorang yang baru saja meninggal. Lebih dari itu, bahkan juga menampilkan fotonya. Contoh lain adalah kebiasaan para wanita di abad ketujuh belas. Pada masa itu seluruh wanita dari berbagai kalangan sosial umumnya menunjukkan buah dadanya di depan umum, baik sebelah maupun keduanya. Tak terkecuali istri raja Charles I, Henrietta Maria. Hal itu karena menunjukkan buah dada dianggap sebagai lambang dari kecantikan dan keremajaan. Sebaliknya, saat ini perilaku itu menjadi tabu, dan tentu tak ada satu pun ratu di Eropa yang mau melakukannya hari ini. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa setiap tabu selalu bersifat partikular. Ia hanya berlaku terhadap suatu komunitas masyarakat tertentu, dalam konteks tertentu, pada waktu dan tempat yang ditentukan pula. Tidak ada tabu yang mutlak dan berlaku di setiap saat, semua konteks, dan di seluruh dunia.

tidak ada tabu yang berlaku untuk semua orang, di segala situasi, dan di setiap waktu.

Berdasarkan pandangan Durkheim, Laksana (2003, hal. 49) menyatakan bahwa ketika kita melihat tabu bahasa sebagai produk masyarakat, maka ia telah menjadi sebuah aturan moralitas. Ia menjadi aturan yang memiliki sifat memaksa, menurutnya norma seperti ini sejajar dengan apa yang dimaksud sebagai etiket. Sementara itu, ada aturan sudah tentu ada pula pelanggaran. Hal itu menurut Laksana merupakan manifestasi yang dapat dilakukan individu sebagai bagian dari masyarakat. Adapun pelanggaran terhadap tabu bahasa itu, sebagaimana pelanggaran terhadap norma lainnya, dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yakni ketakteraturan, ambiguitas, dan anomali. Dalam tabu bahasa pelanggaran dengan jenis ketakteraturan dan ambiguitas umumnya dilakukan dengan cara penyulihan kata atau ungkapan yang dilarang, dengan menggunakan kata atau ungkapan lain sebagai penggantinya. Sementara itu, pelanggaran anomali pada tabu bahasa akan berupa sumpah serapah yang umumnya berfungsi ekspresif untuk melakukan tindak ofensif terhadap orang lain. Menurut Laksana (2003, hal. 50) pelanggaran jenis ini juga akan disertai dengan aktifnya kontrol sosial, seperti hukuman atau sanksi sosial lainnya sebagai reaksi dari anggota masyarakat lain.

Seperti diuraikan di atas, tabu akan membawa konsekuensi ketika ia dilanggar. Konsekuensi itu bervariasi tingkatannya, mulai dari hukuman yang berat seperti malapetaka, marabahaya, penyakit, dan kematian, hingga hukuman yang paling ringan seperti hukuman fisik, pengasingan, pengucilan sosial, atau berupa sikap ketidaksetujuan saja.

Konsekuensi pelanggaran tabu itu bervariasi tingkatannya, mulai dari hukuman berat seperti malapetaka, marabahaya, penyakit, dan kematian, hingga hukuman ringan seperti pengasingan dan pengucilan sosial,

Tabu dan Sensor

Allan dan Burridge (2006, hal. 17) mengutip penyair John Milton mengungkapkan bahwa sensor bahasa, sama halnya dengan pembatasan kepemilikan senjata api, hal itu merupakan upaya paling efektif untuk membatasi penyalahgunaannya di dalam interaksi sosial. Oleh karena itu, tidak heran bila upaya melakukan sensor selalu ada dalam peradaban manusia, khususnya berada di tangan rezim dan pihak-pihak yang memegang kekuasaan. Proses dan upaya melakukan sensor ini dibedakan menjadi dua istilah, yakni tindak penyensoran (censorship) dan tindak menyensor (censoring). Meski keduanya sama-sama merupakan upaya pembatasan, terdapat distingsi yang dapat ditarik untuk membedakan tindak penyensoran (censorship) dan tindak menyensor (censoring). Penyensoran (censorship) pada dasarnya adalah praktik institusional yang dikeluarkan seseorang melalui jabatan atau wewenang untuk melakukan sensor. Dengan kata lain, penyensoran dapat diartikan sebagai penekanan institusional melalui kekuatan kelas penguasa yang bertujuan untuk menegakkan kepentingan bersama dengan menjaga stabilitas dan moral suatu masyarakat. Sementara itu menyensor (censoring) adalah tindakan yang meliputi baik tindakan institusional yang memiliki kekuasaan maupun tindakan individu biasa. Semua orang tanpa disadari juga melakukan tindakan pemeriksaan dan pemilahan baik terhadap perilakunya sendiri maupun terhadap perilaku orang lain. Hal itu terjadi secara individual dan di setiap waktu. Oleh karena itu fenomena ini juga dapat dikatakan sebagai suatu sensor, sekalipun sifatnya sangat bergantung pada situasi dan tindakan yang disensornya (Allan dan Burridge, 2006, hal. 24). Segala macam tabu adalah objek bagi perilaku menyensor (censoring), tetapi hanya tabu-tabu tertentu yang menjadi objek dari perilaku penyensoran (censorship). Misalnya, pornografi menjadi objek baik bagi tindakan menyensor (censoring) maupun penyensoran (censorship), tetapi suami istri yang bermesraan di depan umum hanya menjadi objek dari tindakan menyensor (censoring) dan bukan objek dari penyensoran (censorship). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa penyensoran (censorship) memberi pengaruh terhadap tindakan menyensor (censoring), namun begitu penyensoran (censorship) juga tidak dapat lepas dari kepercayaan pribadi, kesukaan, dan kehendak yang ada pada pelaku sensor.

John Milton mengungkapkan bahwa sensor bahasa, sama halnya dengan pembatasan kepemilikan senjata api, hal itu merupakan upaya paling efektif untuk membatasi penyalahgunaannya di dalam interaksi sosial.

Tabu dalam Bahasa

Dalam bahasa, tabu umumnya dikaitkan dengan hal-hal yang tidak dikatakan, atau ungkapan yang tidak boleh digunakan. Hal ini tidak sepenuhnya benar, sebab dalam praktiknya, tabu bahasa lebih menyerupai hambatan untuk mengunakan kata atau ungkapan tertentu secara bebas dan normal (Trudgill, 2000, hal. 18). Sementara Allan dan Burridge (2006, hal. 27) menyejajarkan tabu bahasa dengan tindakan menyensor bahasa. Adapun menyensor bahasa ia definisikan sebagai tindakan pelarangan terhadap ungkapan atau ekspresi bahasa yang tabu, pada waktu dan konteks tertentu, karena ekspresi bahasa tersebut dapat menjadi tindakan subversif yang menggangu kenyamanan suatu komunitas.

Tabu bahasa lebih menyerupai hambatan untuk mengunakan kata atau ungkapan tertentu secara bebas dan normal (Trudgill, 2000)

Bahasa adalah satu bagian dari kebudayaan, maka secara tetap ia menjadi subjek dari tindakan menyensor. Bahasa mengalami tindakan sensor bahkan sejak tingkat individual. Seseorang yang tidak melakukan sensor terhadap bahasanya, dan mengucapkan apa saja yang terlintas dalam pikirannya, akan dianggap tidak waras oleh lingkungan sosialnya. Hal itu merupakan bukti bahwa bahasa menjadi subjek sensor mulai dari tingkat individu hingga sosial.

Seperti tabu pada umumnya, pelanggaran tabu bahasa juga memiliki konsekuensi yang variatif, dari yang berat hingga yang ringan. Namun begitu, pelanggaran tabu bahasa umumnya berkonsekuensi ringan. Disamping itu, pelanggaran terhadap tabu bahasa juga memiliki fungsi tertentu dalam mengungkapkan emosi. Ia memiliki daya kejut dan efek khusus sebagai alat ekspresi, sehingga pelanggarannya akan lebih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

*) dinukil dari ‘Kajian Semantik Leksikal terhadap Kata Eufemisme yang Ditabukan’ (tesis, FIB UI 2018, tidak diterbitkan).

___________________________________________

[1] Die, or break the ultimate taboo: Survivor’s moving account of how Andes plane crash victims were forced to eat their friends’ bodies in story which still haunts the world 40 years on. http://www.dailymail.co.uk/news/article-3455568/. Diakses pada 26 April 2018.



Leave a Reply

Your email address will not be published.

*
*
*