Sekilas Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Perspektif Ilmu

Sekilas Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Perspektif Ilmu

Mahasiswa dan Perspektif

Hal penting yang perlu saya sampaikan di muka ialah bahwa menjadi mahasiswa adalah pengalaman istimewa bagi seorang manusia. Sebab tidak semua orang berkesempatan menjadi super siswa, yakni pelajar pada tingkatan tertinggi. Pada fase ini anak manusia berkenalan dengan kebebasan yang penuh, baik dalam berpikir maupun bertindak. Beruntungnya, secara finansial ia tidak dituntut untuk bertanggungjawab penuh, dan dalam pandangan moral masih ditoleransi untuk melakukan kekeliruan.

Atas keberuntungan itu, sudah selayaknya insan yang mencapai tahap ini dapat memahami betul keistimewaannya, juga konsekuensi dari kodratnya sebagai intelektual. Seorang mahasiswa, sudah sewajarnya dapat memanfaatkan keistimewaan ini untuk menggali pengetahuan sedalam-dalamnya, melakukan simulasi sepuas-puasnya, dan bertanggungjawab untuk meraih kesadaran tertinggi dalam kemanusiaan.

Adalah hal yang tepat bila panitia memilih kata perspektif sebagai pengawal. Sebab betapa pun tepatnya seorang ilmuwan, pengetahuan tidak pernah sampai pada kebenaran yang bulat dalam memahami kehidupan. Sebagai intelektual, sudah sewajarnya pula kita menyadari bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan, hanya akan tiba kepada sebuah fakta dari satu titik pandang, sebuah kesimpulan dari satu perspektif saja. Oleh karena itu, patutlah bila setiap insan intelektual menanamkan kerendahan hati untuk senantiasa mendengar pendapat orang lain. Hal itu tidak lain untuk memperkaya perspektif terhadap suatu persoalan. Dengan cara itulah kita berharap, setahap demi setahap mendekati apa yang disebut dengan kebenaran.

Bahasa Manusia & Fungsinya

Manusia tidak pernah lepas dari bahasa. Setelah pandai bernafas, dalam hitungan detik selanjutnya manusia lantas belajar bahasa tangis. Setelah itu lambat-lambat mempelajari bahasa ibunya, kemudian bahasa temannya, bahasa pergaulan, bahasa nasional, bahasa asing, dan bahasa lain yang lebih kompleks lagi.

Dari sekian banyak bahasa manusia dan pengertiannya, dalam percakapan awal ini cukuplah kita memandang bahasa secara sederhana. Setidaknya ada tiga hal pokok yang perlu kita sadari dalam memahami bahasa manusia. Pertama, bahasa adalah sistem tanda. Artinya, bahasa adalah seperangkat aturan yang terdiri dari sejumlah komponen yang bekerja bersama dalam fungsi masing-masing. Masing-masing komponen merupakan tanda, yakni sesuatu hal yang mewakili hal lain di luar dirinya. Misalnya, bunyi kursi adalah bahasa karena ia mewakili konsep ‘tempat duduk’, sementara bunyi kursa bukanlah bahasa sebab ia tidak mewakili konsep apapun.

Kedua, bahasa adalah konvensi sosial. Makna sebuah kata, aturan pembentukan kata, serta urutan susunan kalimat, semuanya berdasarkan kesepakatan suatu kelompok sosial. Artinya, bahasa tidak pernah diciptakan oleh individu, melainkan merupakan suatu kesepakatan bersama dari suatu kelompok penutur untuk dapat saling memahami.

Ketiga, bahasa adalah alat. Artinya bahasa memiliki fungsi untuk membantu manusia, khususnya dalam berpikir dan menyampaikan pesan kepada orang lain. Di samping itu, bahasa dalam konteks sosial juga dapat menunjukan identitas sosial. Misalnya pilihan kata, dialek, dan intonasi seseorang membuat kita dapat menerka latar belakang pendidikan, agama, suku, atau kedudukan sosialnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa hakikatnya adalah sistem tanda yang diterima bersama oleh suatu kelompok sosial untuk mempermudah manusia dalam berpikir, berkomunikasi dan menunjukan identitas sosial.

Bahasa manusia, sering diunggulkan dari cara berkomunikasi mahluk lain di dunia. Hal itu karena bahasa manusia dianggap memiliki kemampuan lebih dari sekedar sebagai alat komunikasi. Bahasa manusia dinilai mampu melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti membicarakan dirinya sendiri, mengabstraksi hal yang sangat besar, dan membendakan hal-hal imajinatif yang hanya dapat dibayangkan oleh manusia. Adapun keajaiban lain yang dimiliki bahasa manusia adalah dapat menghasilkan ragam kosntruksi yang tidak terbatas jumlahnya melalui unsur bahasa yang terbatas. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, kita dapat menghasilkan ribuan kata yang tercantum dalam KBBI hanya dengan menggunakan 26 huruf alfabet.

Bahasa Indonesia

Banyak orang menganggap dirinya telah mahir berbahasa Indonesia, sehingga tidak perlu lagi untuk mempelajarinya. Hal itu boleh dianggap benar, sebab keterampilan bahasa bisa juga diperoleh secara alamiah melalui penggunaan panjang kehidupan sehari-hari. Namun begitu studi bahasa dan sastra Indonesia bukan hanya soal keterampilan berbahasa. Studi bahasa dan sastra Indonesia adalah studi mengenai teori, sistem, sejarah, dan fungsi dari bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia sendiri hakikatnya adalah bahasa pergaulan yang digunakan berbagai suku di Indonesia. Ia adalah anugerah bagi kemajemukan budaya Indonesia. Berasal dari bahasa Melayu, bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa yang baru setelah mengalami pengaruh bahasa asing seperti Arab, Belanda, Portugis dan Inggris selama puluhan tahun. Bahasa Indonesia juga terbentuk oleh berbagai pengaruh dari bahasa daerah di Nusantara. Hasil dari bentukan itulah yang kemudian dibakukan menjadi bahasa resmi dan bahasa pengantar dalam kegiatan pendidikan di Indonesia.

Dalam konteks yang lebih jauh, bahasa Indonesia berada di antara begitu banyak bahasa daerah dan bahasa asing di dunia. Bahasa Indonesia, hanyalah satu dari ribuan bahasa yang ada di muka bumi. Oleh karena itu merupakan hal penting bagi seorang akademisi bahasa Indoneisa untuk menemukan alasan, mengapa ia masih perlu menggunakan bahasa Indonesia, dan menjadikannya sebagai objek kajian.

Indonesia terdiri dari beragam etnis dan suku bangsa. Hingga kini, terdapat 701 bahasa daerah  yang hidup dan masih dituturkan oleh beragam etnis di seluruh kepulauan Indonesia.[1] Dalam keragaman seperti ini Bahasa Indonesialah yang memungkinkan suku-suku yang berbeda ini dapat berkomunikasi satu sama lain. Penggunaan Bahasa Indonesia juga adalah alat pemersatu dan simbol kesepahaman bagi kemajemukan budaya Indonesia.

Saat ini Indonesia juga merupakan negara keempat dengan penduduk terbanyak setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.[2] Hal ini membuat bahasa Indonesia menduduki peringkat kelima bahasa dengan penutur paling banyak di Asia.[3]  Berdasarkan data sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010, Ethnologue menyebutkan bahwa Bahasa Indonesia  digunakan oleh 198.000.000 orang di Indonesia. Sementara di seluruh dunia, Bahasa Indonesia digunakan oleh 43.364.600 penutur bahasa pertama dan 155.369.000 penutur bahasa kedua. Dengan demikian, jumlah total penutur bahasa Indonesia secara keseluruhan mencapai 198.733.600 orang di dunia.[4]

Di Internet, Bahasa Indonesia adalah bahasa terbesar ke-6 yang paling banyak digunakan.[5]   Bahasa Indonesia juga telah dipelajari di 250 lembaga pemerintahan dan swasta di 45 negara. Di samping itu, lebih dari 500 sekolah di Australia telah mewajibkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia bukan hanya mampu menjadi bahasa pemersatu, tetapi juga berpotensi menjadi bahasa akademis, bahasa bisnis, dan bahasa pergaulan internasional.

Berdasarkan posisinya terhadap bahasa lain, sudah sewajarnya kita menempatkan bahasa Indonesia sebagai anugerah sekaligus alat pemersatu. Kita sebagai intelektual hendaknya memposisikan bahasa Indonesia sebagai alat berpikir, mencatat, dan melestarikan kebijaksanaan budaya nusantara. Mengampanyekan berbahasa Indonesia yang baik, menguasai bahasa-bahasa pergaulan dunia, dan melestarikan kearifan bahasa daerah.

Di samping itu, bicara bahasa Indonesia bukan berarti melulu bicara mengenai bahasa baku. Sebab keberadaan bahasa ragam santai adalah fakta sosial yang juga memiliki fungsi tersendiri di dalam kehidupan manusia. Keberadaannya, seringkali dianggap sebagai penyakit dan sampah bagi bahasa baku. Padahal sejatinya, bahasa ragam santai memiliki fungsi dalam menyampaiakan nilai-nilai keakraban dan efisiensi komunikasi. Bahasa ragam santai juga merupakan fenomena yang mustahil dihilangkan. Ia akan selalu ada dalam setiap bahasa, setiap masa, dan setiap kebudayaan. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak tregesa-gesa bernafsu untuk mengutuk dan meninggalkan ragam bahasa santai. Adapun jalan yang lebih bijaksana adalah dengan memahami ketepatan waktu untu menggunakan ragam baku dan ragam santai itu. Fasih dalam menggunakan tata bahasa yang baik, dan wajar dalam menggunakan ragam santai.

Ilmu Bahasa & Ilmu Sastra

Studi terhadap bahasa yang dilakukan secara sistematis disebut ilmu bahasa atau linguistik. Sementara studi terhadap karya seni bahasa disebut ilmu sastra. Ilmu bahasa menempatkan seluruh aspek bahasa sebagai objek kajiannya. Seperti asal mula bahasa manusia, sejarah kata, bentukan kata, struktur kalimat, sistem bunyi, dan proses pemaknaan. Sementara itu, ilmu sastra menitikberatkan kajiannya pada aspek estetis dari penggunaan bahasa. Oleh karena itu, kajian ilmu sastra umumnya meliputi kerja kritik, penafsiran, dan penciptaan karya seni bahasa. Kritik, artinya upaya menguraikan dan menilai keindahan yang terkandung dalam sastra. Kegiatan ini umumnya terjadi pada penulisan kritik sastra, esai sastra, dan penelitian akademis. Penafsiran artinya adalah kerja apresiasi, yakni upaya memperoleh makna dari suatu karya seni bahasa. Sementara penciptaan karya seni bahasa meliputi metodologi praktis dalam upaya menulis kreatif.

Meski sama-sama bergumul dengan bahasa, keduanya memiliki metodologi yang berbeda. oleh karena itu Ilmu Bahasa dan Ilmu Sastra dipisahkan menjadi dua disiplin yang berbeda. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia boleh saja mempelajari keduanya, dan banyak pula tokoh intelektual yang terampil dalam kedua bidang ini. Namun begitu, dalam kurikulum perkuliahan, mahasiswa umumnya diminta memilih salah satu sebagai minat utama.

Bahasa sebagai Teknologi

Pernah suatu waktu, bahasa dianggap sebagai bagian alami dari kemanusiaan. Bahasa diperoleh melalui kebiasaan dan pergaulan sehari-hari manusia dengan lingkungannya. Bahasa dalam hal ini dianggap sebagai respon terhadap segala fenomena yang dihadapi manusia. Namun begitu, setelah Chomsky mengemukakan teori Tata Bahasa Universal, pandangan terhadap bahasa sedikit banyak mengalami perubahan. Bahasa tidak lagi dianggap sebagai bagian dari bawaan manusia, kecuali hanya potensi kebahasaannya saja.

Bahasa mulai dipandang sebagai alat, dan berada di luar tubuh manusia. Bahasa diposisikan sebagai teknologi yang dipakai untuk mempermudah berbagai kerja manusia, seperti berpikir, berimajinasi, berkomunikasi, dan mengekspresikan perasaan. Seperti pakaian, bahasa juga dapat disesuaikan dan dikembangkan sesuai dengan lingkungan hidup penggunanya. Bahasa dikembangkan sesuai dengan tradisi, selera, kebutuhan, dan lingkungan hidup yang dihadapi manusia. Oleh karena itulah kita dapat melihat keragaman bentuk bahasa manusia di muka bumi.

Cara pandang seperti ini mendorong kita sebgai intelektual menempatkan bahasa sebagai alat yang dinamis. Kita hendaknya tidak terlalu menolak perubahan, yang memang mutlak akan terus terjadi, sekaligus juga tidak abai terhadap pelestarian nilai dan sejarah peradaban yang telah kita bangun bersama dalam suatu sistem bahasa. Sebab suatu bahasa sejatinya juga merupakan cermin dari pengalaman, sikap, dan kekayaan pengetahuan para penuturnya.

*) disampaikan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasasiswa Bahasa & Sastra Indonesia FPBS UPI 2019

__________________

[1] https://www.ethnologue.com/country/ID

[2] https://www.internetworldstats.com/stats.htm

[3] https://www.worldatlas.com/articles/major-languages-spoken-in-asia.html

[4] https://www.ethnologue.com/language/ind

[5] https://www.internetworldstats.com/stats7.htm



Leave a Reply

Your email address will not be published.

*
*
*