Ziarah, Kerja, Lelaki Botak Penjual Kerudung, dan Perpustakaan yang Tersesat

Ziarah, Kerja, Lelaki Botak Penjual Kerudung, dan Perpustakaan yang Tersesat

Karena bus kebut-kebutan, perhitungan melenceng jauh. Jam tiga pagi saya sudah tiba di Giwangan. Tentu merupakan hal baik, jika bukan karena penginapan yang baru bisa saya pakai jam dua belas siang. Alhasil, kini saya punya sembilan jam untuk terkatung-katung tanpa tujuan. Akibat dingin, saya mencari tempat duduk. Tergigil-gigil di bangku angkringan yang sudah tutup.

Cuaca memang sedang agak lain, setidaknya telah terpantau adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia dan satu bibit siklondi di  Samudra Pasifik. Begitu menurut BMKG kemarin malam, yang secara singkat teringat sebagai frasa ‘cuaca ekstrem’ dalam benak saya, dan kalimat ‘Yogya rasa lembang.’ dalam perasaan saya.

Seorang bapak duduk di dekat saya. Menghadap ke jalan lengang, kami mengobrol. Ia bercerita tentang petualangan lelaki botak penjual kerudung. Lelaki botak itu, tentu adalah dirinya, yang syahdan mengembara dari pulau ke pulau dengan berbagai jenis bus dan kapal laut. Sebagaimana penutur yang lihai, ia membuat cerita itu seolah tak punya ujung, tetapi akhirnya cerita itu pun selesai juga. Hampir satu jam berlalu, tetapi langit masih juga gelap, dan jalanan tetap sunyi.

Saya putuskan pergi ke Jogokariyan. Rukuk bersama orang-orang yang rukuk, dan sujud bersama orang-orang yang sujud. Tak ketinggalan seorang khatib memberi ceramah singkat. Entah sengaja atau tidak, ia bercerita tentang manusia dan pekerjaan. Diskursus yang belakangan mengekor di kepala saya.

Ada manusia yang terus melulu bekerja tanpa mengindahkan pengabdian kepada tuhan, ada manusia yang hanya berdoa dan meninggalkan kerja, namun ada pula manusia yang bekerja dalam pengabdian kepada tuhan, begitu katanya menguraikan. Tentu tak perlu secercah pun saya merasa tersinggung. Dalam hal ini, saya hanya teringat pada Bagavad Ghita yang belakangan tekun saya baca, khususnya pada bagian tiga seloka satu.

“Kalau engkau berpikir ilmu pengetahuan lebih mulia daripada kerja, mengapa engkau anjurkan kepadaku melakukan perbuatan yang kejam ini wahai Kesawa?” Kalimat Arjuna kepada Kresna itu, agaknya lebih dari cukup mewakili pertanyaan saya kepada Allah yang Esa. Sementara menit-menit selanjutnya, adalah seloka yang datang menjawab setiap keraguan yang ada. Seloka yang indah, namun terlupa dari ingatan saya.

Setelah syuruq habis saya pun makan dengan orang-orang yang makan, minum bersama orang-orang yang minum. Untuk melanjutkan terkatung-katung, saya pergi berkeliling Yogya. Mencari kafe, yang menurut iklan, buka dua puluh empat jam dalam sehari. Tetapi iklan, rupanya tak lebih bagus dari janji lelaki. Semua kafe tutup tanpa kecuali. Karena itu saya berkesimpulan, selama tak ada cinta yang abadi maka tak ada pula warung kopi yang buka jam tujuh pagi.

Saya berjalan lagi, dan akhirnya ongkang-ongkang kaki di Malioboro. Memandangi langit, dan merasai kayu yang saya duduki. Saya pandangi orang berlalu-lalang. Saya pandangi apa yang mereka pandang, dan saya terka apa yang mereka pikirkan. Begitu terus sampai saya bosan, dan mulai membuka-buka halaman buku Verhaar. Entah di halaman berapa saya berhenti. Menurutnya, tak ada bunyi yang biasa dalam bahasa; semuanya rumit. Begitu pula dalam pandangan saya, tak ada hubungan biasa antara dua anak manusia; semuanya rumit. Bahkan berbelit-belit.

Menurutnya, tak ada bunyi yang biasa dalam bahasa; semuanya rumit. Begitu pula dalam pandangan saya, tak ada hubungan biasa antara dua anak manusia; semuanya rumit. Bahkan berbelit-belit.

Kerumitan  itu membuat saya membalikan badan. Membuang pandangan sejauh mungkin, ke arah utara Yogyakarta. Lama sekali. Sampai tidak sengaja, terbaca dalam sekejap Library Center di antara papan nama deretan toko batik. Segera saya awasi tempat itu, seperti anak kucing sedang belajar berburu.

Dan gila betul, perpustakaan yang tersesat di pusat wisata ini demikian ganjil dan tidak lazim. Isinya adalah Koran tua, arsip-arsip penerbitan berupa majalah dan harian berusia puluhan tahun. Saya masuk, dan saya isi daftar tamu dengan kartu mahasiswa UI yang kadaluwarsa. Demikian kebiasaan itu saya ulangi, setiap kali mengunjungi perpustakaan di setiap kota.

Di kolom tujuan, biasanya orang menulis berkunjung, meminjam, atau membaca. Tetapi saya lebih suka menulis ‘wisata’, karena dari buku-buku itulah saya mendapat sedikit penghiburan dari dunia yang sering tidak toleran, terutama terhadap ide-ide besar dan revolusioner.

Di kolom tujuan, biasanya orang menulis berkunjung, meminjam, atau membaca. Tetapi saya lebih suka menulis ‘wisata’, karena dari buku-buku itulah saya mendapat sedikit penghiburan dari dunia yang sering tidak toleran, terutama terhadap ide-ide besar dan revolusioner. Tetapi kadang-kadang, seperti saat ini, saya tulis juga ‘ziarah’. Karena dalam hemat saya, hanya di perpustakaan gagasan-gagasan hebat dikuburkan, dan di sana pula saya selalu diperkenankan mengunjunginya, juga mengusap kening nisannya.*



Leave a Reply

Your email address will not be published.

*
*
*